Feeds:
Posts
Comments

Resume Ekologi Laut Tropis

Ekologi adalah sebuah ilmu yang mempelajari interaksi antara makhluk hidup dengan lingkungannya,karena yang dipelajari adalah ekologi laut tropis maka resume ini menjelaskan tentang interaksi antara makhluk hidup yang berada di laut tropis dengan lingkungannya.

Karakteristik laut tropis adalah sinar matahari terus menerus sepanjang tahun(hanya ada 2 musim,hujan dan kemarau) adalah kondisi yang optimal bagi produksi fitoplankton dan konstan sepanjang tahun.

Ekosistem yang terdapat di laut tropis ada tiga,yaitu :

  • Ekosistem Terumbu Karang

Terumbu karang adalah sekumpulan hewan karang yang bersimbiosis dengan sejenis tumbuhan alga yang disebut zooxanthellae. Terumbu karang termasuk dalam jenis filum cnidaria yang memiliki tentakel. Terumbu karang tersusun atas polip-polip yang hidup berkoloni. Hewan ini memiliki bentuk unik dan warna beraneka rupa serta dapat menghasilkan CaCO3. Terumbu karang merupakan habitat bagi berbagai spesies tumbuhan laut, hewan laut, dan mikroorganisme laut lainnya yang belum diketahui. Di dalam terumbu karang, koral adalah kerangka ekosistemnya. Sebagai hewan yang menghasilkan kapur untuk kerangka tubuhnya, koral merupakan komponen yang terpenting dari ekosistem tersebut. Baik buruknya kondisi suatu ekosistem terumbu karang dilihat dari komunitas karangnya. Kehadiran karang di terumbu akan diikuti oleh kehadiran ratusan biota lainnya (ikan, invertebrata, algae), sebaliknya hilangnya karang akan diikuti oleh perginya ratusan biota penghuni terumbu karang.

Ekosistem terumbu karang merupakan ekosistem dengan efisiensi yang sangat tinggi. Lokasinya yang dekat pantai mengakibatkan pertemuan berbagai komponen biotik yang memberikan banyak masukan dan menghasilkan energi yang besar.

Disamping menghasilkan sedimen kapur pembentuk terumbu, karang juga meningkatkan kompleksitas dan produktivitas ekosistem. Karang kadangkala disebut juga sebagai karang batu (karang yang keras seperti batu) atau karang terumbu (karang yang menghasilkan kapur pembentuk terumbu). Hal ini untuk membedakannya dengan karang lunak. Jika istilah karang digunakan secara sendiri maka itu mengacu pada karang batu atau karang terumbu, bukan karang lunak. Karang mendapatkan makanan sebagian besar (>70%)dari algae zooxanthellae yang terdapat di dalam tubuhnya sedangkan sisanya ia dapat memakan plankton atau bahkan sedimen.

  • Ekosistem Mangrove

Merupakan Hutan yang terutama tumbuh pada tanah lumpur aluvial di daerah pantai dan muara sungai yang dipengaruhi pasang surut air laut. Luas hutan mangrove di Indonesia merupakan yang terluas di dunia (2,5-3,5 juta Ha,18-23 % luas mangrove di dunia dan lebih luas dari Brasil)

Mangrove sendiri mempunyai beberapa fungsi dari segi ekonomi,sebagai nursery dan ekologis yaitu:

  1. Sebagai peredam gelombang dan angin, pelindung dari abrasi dan pengikisan pantai oleh air laut, penahan intrusi air laut ke darat, penahan lumpur dan perangkap sedimen.
  2. Sebagai penghasil sejumlah besar detritus bagi plankton yang merupakan sumber makanan utama biota laut.
  3. Sebagai habitat bagi beberapa satwa liar, seperti burung, reptilia (biawak, ular), dan mamalia (monyet).
  4. Sebagai daerah asuhan (nursery grounds), tempat mencari makan (feeding grounds), dan daerah pemijahan (spawning grounds) berbagai jenis ikan, udang dan biota laut lainnya.
  5. Sebagai penghasil kayu konstruksi, kayu bakar, bahan baku arang, dan bahan baku kertas.
  • Ekosistem Lamun

Lamun merupakan tumbuhan berbunga yang hidupnya terbenam di dalam laut.Padang lamun ini merupakan ekosistem yang mempunyai produktivitas organik yang  tinggi.fungsinya sebagai feeding ground, spawning ground dan nursery ground beberapa jenis hewan yaitu udang dan ikan baranong, sebagai peredam arus sehingga perairan dan sekitarnya menjadi tenang. ada dua cara untuk penentuan status keadan padang lamun yaitu  Metode Transek Garis atau Line Intercept Transect (LIT) dan Petak contoh (Transect plot).

NICHE

Niche atau nicia atau ecological niche, tidak hanya meliputi ruang/tempat yang ditinggali organisme, tetapi juga peranannya dalam komunitas, dan posisinya pada gradient lingkungan: temperatur, kelembaban, pH, tanah dan kondisi lain.

Di dalam ekologi ada keterkaitan dengan energy,hal yang berkaitan dengan energy adalah siklus biogeokimia.Siklus biogeokimia atau siklus organikanorganik adalah siklus unsure atau senyawa kimia yang mengalir dari komponen abiotik ke biotik lalu kembali lagi ke abiotik. Ada 4 cara untuk nutrient masuk ke ekosistem,yaitu :

  1. Weathering
  2. Atmospheric Input
  3. Biological Nitrogen Fixation
  4. Immigration

Bila ada cara masuk tentu ada cara keluarnya juga,yaitu :

  1. Erosion
  2. Leaching, intrusi
  3. Gaseous Losses
  4. Emigration and Harvesting

Siklus biogeokimia juga berhubungan dengan siklus fosfor,siklus nitrogen dan siklus karbon dan oksigen.

  • Siklus Karbon dan Oksigen

Siklus ini merupakan siklus biogekimia terbesar.3 hal yang terjadi pada karbon adalah tinggal di dalam tubuh,direspirasi oleh hewan dan sampah/sisa.karbon masuk ke perairan melalui difusi.

  • Siklus Nitrogen

Jumlah yang terdapat di atmosfer 80%,nitrogen bebas juga dapat bereaksi dengan hydrogen atau oksigen dengan bantuan kilat atau petir.

  • Siklus Fosfor

Senyawa fosfor di alam terbagi dalam dua yaitu, senyawa fosfat organik (pada hewan dan tumbuhan) dan senyawa fosfat anorgani (pada air dan tanah). fosfat organik yang terdapat dalam hewan dan tumbuhan yang mati akan di uraikan oleh decomposer dan menjadi fosfat anorganik. Lalu fosfat yang terlarut di air tanah atau di air laut  akan mengendap di di sedimen laut. Setelah itu fosfat yang dari batuan itu akan terkikis lalu akan terserap lagi oleh tumbuhan.

Ditulis oleh :  Debi Suhadaprawira

NPM : 230210080015

EKOSISTEM MANGROVE DI PANTAI SELATAN JAWA

Kondisi habitat mangrove Hutan mangrove dapat mencapai lebar beberapa meter di bibir pantai hingga ratusan kilometer ke hulu sungai (Chapman, 1992; Wainwright, 1984). Pada sungai-sungai besar formasi hutan ini dapat menjorok hingga ratusan kilometer ke daratan.Pantai selatan Jawa memiliki cukup banyak muara sungai yang berpotensi menjadi habitat mangrove. Muara-muara sungai ini membentuk laguna karena adanya gosong pasir di mulut muara. Hal ini terjadi karena aliran air sungai yang mengandung sedimen tanah dari daratan menuju laut bertemu dengan gelombang laut menuju daratan yang membawa butiran-butiran pasir. Laguna ini merupakan kawasan potensial bagi pertumbuhan mangrove dan pada masa lalu diduga merupakan habitat mangrove. Pada dasarnya beberapa sungai memiliki sebagian daerah pasang surut yang potensial bagi pertumbuhan mangrove. Proses perubahan habitat tampaknya menjadi masalah pokok yang menyebabkan komunitas mangrove hilang dari sebagian muara sungai tersebut. Kebanyakan habitat mangrove telah diubah menjadi lahan persawahan atau bahkan pemukiman.contohnya pada beberapa muara sungai,area ini telah diubah menjadi tambak, seperti di sepanjang tepian Sungai Ijo.

Rantai Makanan Detritus

1. Rantai Makanan Langsung.

Rantai makanan langsung adalah peristiwa makan memakan mulai dari tingkatan trofik terendah  yaitu fitoplankton sampai ke tingkatan trofik tertinggi yaitu ikan karnivora berukuran besar, mamalia, burung dan reptil . Hal ini dapat dilihat pada ilustrasi berikut :

Gambar 1. Diagram ilustrasi penyebaran fauna di habitat ekosistem mangrove

Dari gambar diatas nampak bahwa rantai makanan langsung, bukanlah sebuah proses ekologi yang dominan terjadi di dalam ekosistem mangrove. Oleh karena spesies ikan yang terdapat dalam ekosistem mangrove, utamanya konsumer trofik tertinggi, kebanyakan adalah ikan pengunjung pada periode tertentu atau musim tertentu.bahwa beberapa jenis ikan komersial mempunyai kaitan dengan mangrove seperti bandeng dan belanak.

Anonim (2009) mengklasifikasikan ikan yang terdapat dalam ekosistem mangrove pada 4 (empat) tipe ikan, yaitu :

a. Ikan penetap sejati, yaitu ikan yang seluruh siklus hidupnya dijalankan di daerah hutan mangrove seperti ikan Gelodok (Periopthalmus sp).

b. Ikan penetap sementara, yaitu ikan yang berasosiasi dengan hutan mangrove selama periode anakan, tetapi pada saat dewasa cenderung menggerombol di sepanjang pantai yang berdekatan dengan hutan mangrove, seperti ikan belanak (Mugilidae), ikan Kuweh (Carangidae), dan ikan Kapasan, Lontong (Gerreidae).

c. Ikan pengunjung pada periode pasang, yaitu ikan yang berkunjung ke hutan mangrove pada saat air pasang untuk mencari makan, contohnya ikan Kekemek, Gelama, Krot (Scianidae), ikan Barakuda / Alu-alu, Tancak (Sphyraenidae), dan ikan-ikan dari familia Exocietidae serta Carangidae.

d. Ikan pengunjung musiman. Ikan-ikan yang termasuk dalam kelompok ini menggunakan hutan mangrove sebagai tempat asuhan atau untuk memijah serta tempat perlindungan musiman dari predator.

Mangrove merupakan penghasil detritus yang merupakan sumber makanan bagi organisme laut terlebih lagi fungsi hutan mangrove secara ekologi adalah sebagai tempat pemijahan (nursery ground), tempat mencari (feeding ground), dan tempat perlindungan (shelter) beberapa organisme perairan, satwa liar, primata, serangga, burung, reptil dan amphibi

Pada ekosistem mangrove, rantai makanan yang terjadi adalah rantai makanan detritus sumber utama detritus diperoleh dari guguran daun mangrove yang jatuh ke perairan kemudian mengalami penguraian dan berubah menjadi partikel kecil yang dilakukan oleh mikroorganisme seperti bakteri dan jamur dan menghasilkan detritus. Hancuran bahan organik (Detritus) ini menjadi bahan makanan penting (Nutrien) bagi cacing,crustaceae,moluska dan hewan lainnya

Rantai makanan detritus dimulai dari proses penghancuran luruhan dan ranting mangrove oleh bakteri dan fungi (detritivor) menghasilkan detritus. Hancuran bahan organik (detritus) ini kemudian menjadi bahan makanan penting (nutrien) bagi cacing, crustacea, moluska, dan hewan lainnya. Nutrien di dalam ekosistem mangrove dapat juga berasal dari luar ekosistem, dari sungai atau laut, setelah itu bakteri dan fungi tadi dimakan oleh sebagian protozoa dan avertebrata. Kemudian protozoa dan avertebrata dimakan oleh karnivor sedang, yang selanjutnya dimakan oleh karnivor tingkat tinggi.

Gambar 3. Rantai makanan dan aliran energy di hutan mangrove

Jenis Organisme Pada Rantai Makanan Ekosistem Mangrove.

Detritivor pada Ekosistem Mangrove

Adanya sistem akar yang padat, menyebabkan sedimen, yang mengandung unsur hara, terperangkap. Selain itu model perakaran ini juga menyebabkan gerakan air yang minimal pada ekosistem ini. Sehingga hewan pengurai (detritivor) memiliki aktivitas tinggi dengan jumlah yang banyak pada ekosistem ini. Setyawan dkk (2002) menyatakan bahwa sesendok teh, lumpur mangrove mengandung lebih dari 10 juta bakteri, lebih kaya dari lumpur manapun. Bakteri yang dimaksud disini adalah bakteri patogen seperti Shigella, Aeromonas dan Vibrio dimana bakteri ini dapat bertahan pada air mangrove walaupun tercemar bahan kimia berbahaya . Selain itu, terdapat  mikroorganisme lain yang dapat menguraikan molekul organik pada ekosistem mangrove. Mikroorganisme itu adalah fitoplankton dan zooplankton.

EKOLOGI MANGROVE

Ekologi  adalah interaksi antar makhluk hidup maupun interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya,ekologi tidak lepas dari pembahasan ekosistem dengan berbagai komponen penyusunnya, yaitu faktor abiotik dan biotik.

1. Komponen abiotik
merupakan komponen dalam alam semesta yang tidak hidup, misalnya udara, air,

cahaya, dll.
2. Komponen biotik
merupakan komponen dalam alam semesta yang hidup, misalnya manusia, hewan,

tumbuhan, jamur,bakteri, dll.

Ekologi dalam ekosistem Mangrove di pantai selatan.

Luasnya sebaran tumbuhan mangrove ini  tergantung pada faktor ekologi seperti, lingkungan abiotik, biotik, dan budaya masyarakat. Tumbuhan mangrove memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam beradaptasi terhadap faktor biotik (kompetisi dan herbivori) dan faktor lingkungan abiotik,sehingga sebaran setiap spesies tidak selalu sama. Tumbuhan mangrove memilih habitat di kawasan pantai sebagai strategi untuk memenangkan kompetisi dengan tumbuhan darat pada umumnya, di samping untuk menghindari herbivori dari hama dan penyakit yang biasa menyerang tumbuhan darat. Pada dasarnya tumbuhan mangrove dapat hidup pada perairan tawar yang jauh dari pantai.

Sebaran spesies tumbuhan mangrove juga terkait dengan kemampuan beradaptasi terhadap kondisi lingkungan (faktor abiotik). Tumbuhan mangrove umumnya memiliki bentuk morfologi dan mekanisme fisiologi tertentu untuk beradaptasi terhadap lingkungan mangrove. Bentuk adaptasi ini umumnya terkait dengan adaptasi terhadap

garam, adaptasi sistem reproduksi (propagul), dan adaptasi terhadap tanah yang gembur dan bersifat anoksik (anaerob). Spesies mangrove mampu tumbuh pada

lingkungan dengan salinitas rendah hingga tinggi. Kemampuan ini disebabkan adanya mekanisme ultrafiltrasi pada akar untuk mencegah masuknya garam, adanya

sistem penyimpanan garam dan adanya sistem ekskresi pada daun untuk membuang garam yang terlanjur masuk ke jaringan tubuh. Mekanisme terakhir ini menyebabkan

kebanyakan daun tumbuhan mangrove berasa asin, misalnya daun A. illicifolius. Propagul beberapa spesies tertentu seperti Rhizophora spp. umumnya telah tumbuh

sejak masih menempel pada batang induknya (vivipari), sedang pada beberapa spesies lainnya belum tumbuh (kriptovivipari), seperti N. fruticans. Propagul umumnya

dapat mengapung dan tersebar pada kawasan yang luas.Tumbuhan mangrove juga memiliki sistem perakaran yang khas untuk beradaptasi terhadap tanah lumpur yang

lembut dan anaerob, berupa akar napas (pneumatofora) yang bentuknya beragam tergantung spesiesnya. Pneumatofora dapat berbentuk penyangga (Rhizophora

spp.), pensil (Avicennia spp., Sonneratia spp.), lutut (Xylocarpus spp.), dan banir/papan (Bruguiera spp.). Bentuk-bentuk adaptasi di atas tidak dimiliki tumbuhan darat pada umumnya, sehingga kebanyakan tumbuhan darat tidak dapat tumbuh di lingkungan mangrove. Sejumlah kecil tumbuhan darat yang mampu tumbuh di daerah ekoton antara lingkungan mangrove dan darat dikenal sebagai tumbuhan asosiasi mangrove, yang umumnya merupakan tumbuhan pantai.

DEFINISI HUTAN MANGROVE DAN EKOSISTEM MANGROVE

Hutan mangrove adalah hutan yang terdapat di daerah pantai yang selalu atau secara teratur tergenang air laut dan terpengaruh oleh pasang surut air laut tetapi tidak

terpengaruh oleh iklim. Sedangkan daerah pantai adalah daratan yang terletak di bagian hilir Daerah Aliran Sungai (DAS) yang berbatasan dengan laut dan masih dipengaruhi oleh pasang surut, dengan kelerengan kurang dari 8% (Departemen Kehutanan, 1994 dalam Santoso, 2000).

Sebagai salah satu ekosistem pesisir, hutan mangrove merupakan ekosistem yang

unik dan rawan. Ekosistem ini mempunyai fungsi ekologis dan ekonomis. Fungsi

ekologis hutan mangrove antara lain : pelindung garis pantai, mencegah intrusi air laut,

habitat (tempat tinggal), tempat mencari makan (feeding ground), tempat asuhan dan

pembesaran (nursery ground), tempat pemijahan (spawning ground) bagi aneka biota

perairan, serta sebagai pengatur iklim mikro. Sedangkan fungsi ekonominya antara lain

: penghasil keperluan rumah tangga, penghasil keperluan industri, dan penghasil bibit.

Sebagian manusia dalam memenuhi keperluan hidupnya dengan mengintervensi

ekosistem mangrove. Hal ini dapat dilihat dari adanya alih fungsi lahan (mangrove)

menjadi tambak, pemukiman, industri, dan sebagainya maupun penebangan oleh

masyarakat untuk berbagai keperluan.

Dampak ekologis akibat berkurang dan rusaknya ekosistem mangrove adalah hilangnya berbagai spesies flora dan fauna yang berasosiasi dengan ekosistem mangrove, yang dalam jangka panjang akan mengganggu keseimbangan ekosistem

mangrove khususnya dan ekosistem pesisir umumnya.

Hubungan Ekosistem Mangrove dengan Ekosistem Lainnya

Ekosistem utama di daerah pesisir adalah ekosistem mangrove, ekosistem lamun dan

ekosistem terumbu karang tidak selalu ketiga ekosistem tersebut dijumpai, namun demikian apabila ketiganya dijumpai maka terdapat keterkaitan antara ketiganya. Masing-masing ekosistem mempunyai fungsi sendirisendiri.

Ekosistem mangrove merupakan penghasil detritus, sumber nutrien dan bahan

organik yang dibawa ke ekosistem padang lamun oleh arus laut. Sedangkan ekosistem

lamun berfungsi sebagai penghasil bahan organik dan nutrien yang akan dibawa ke

ekosistem terumbu karang. Selain itu, ekosistem lamun juga berfungsi sebagai

penjebak sedimen (sedimen trap) sehingga sedimen tersebut tidak mengg anggu

kehidupan terumbu karang. Selanjutnya ekosistem terumbu karang dapat berfungsi

sebagai pelindung pantai dari hempasan ombak (gelombang) dan arus laut. Ekosistem

mangrove juga berperan sebagai habitat (tempat tinggal), tempat mencari makan

(feeding ground), tempat asuhan dan pembesaran (nursery ground), tempat pemijahan

(spawning ground) bagi organisme yang hidup di padang lamun ataupun terumbu

karang. Di samping hal-hal tersebut di atas, ketiga ekosistem tersebut juga menjadi

tempat migrasi atau sekedar berkelana organisme-organisme perairan, dari hutan

mangrove ke padang lamun kemudian ke terumbu karang atau sebaliknya

SIRKULASI LAUT DUNIA

Definisi
Sebelum kita mendefinisikan sirkulasi laut dunia kita harus mengetahui definisi dasar dari arus laut.
Arus laut gerakan massa air laut yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
Gerakan massa air laut tersebut digerakan oleh pengaruh angin. Angin bergerak dari tekanan udara yang tinggi ke tekanan udara yang lebih rendah. Jadi bisa didefinisikan bahwa arus laut dipengaruhi oleh angin yang bergerak dari tekanan udara yang tinggi ke tekanan udara yang lebih rendah. Factor-faktor yang mempengaruhi pergerakan arus laut:
1. Angin
2. Salinitas
3. Suhu
4. Gravitasi
5. Gerak rotasi bumi
6. Konfigurasi benua
7. Topografi dasar laut

• Salinitas adalah kadar garam yang terkandung dalam air laut. Salinitas mempengaruhi pergerakan pada kedalaman air laut. Ini disebabkan adanya perbedaan kadar salinitas di setiap zona kedalaman laut. Air laut yang bersalinitas tinggi akan bergerak ke kadar air laut yang bersalinitas rendah. Itulah yang disebut perbedaan densitas air laut.perbedaan densitas air laut meneybabkan pergerakan di kedalaman air laut .
• Gaya gravitasi dri bulan dan matahari itu menyebabkan permukaan air laut di suatu tempat tertentu naik mencapai ketinggian tertentu dan kemudian turun kembali seiring dengan perubahan konfigurasi benda-benda langit tersebut.
• Pengaruh rotasi bumi terhadap arus laut adalah gerak rotasi bumi menyebabkan arus laut bergerak searah dengan rotasi bumi karena rotasi bumi menimbulkan Efek sentrifugal yaitu dorongan ke arah luar pusat rotasi ( gaya corriolis )
• Suhu atau temperature menyebabkan adnaya arus disebabkan Perubahan densitas timbul karena adanya perubahan suhu dan salinitas anatara 2 massa air yang densitasnya tinggi akan tenggelam dan menyebar dibawah permukaan air sebagai arus dalam dan sirkulasinya disebut arus termohalin.

• Konfigurasi benua dan topografi dasar laut merupakan faktor penyebab adanya arus laut. Konfigurasi benua menyebabkan aliran gyre yang searah jarum jam (ke kanan) pada belahan bumi utara dan berlawanan dengan arah jarum jam di belahan bumi selatan.

Sirkulasi laut dunia

Pola umum arus permukaan samudera dimodifikasi oleh faktor-faktor fisik dan berbagai variabel seperti friksi, gravitasi, gerak rotasi Bumi, konfigurasi benua, topografi dasar laut, dan angin lokal. Interaksi berbagai variabel itu menghasilkan arus permukaan samudera yang rumit.
Arus di samudera bergerak secara konstan. Arus tersebut bergerak melintasi samudera yang luas dan membentuk aliran yang berputar searah gerak jarum jam di Belahan Bumi Utara (Northern Hemisphere), dan berlawanan arah gerak jarum jam di Belahan Bumi Selatan (Southern Hemisphere). Pola umum sirkulasi arus global dapat dilihat dalam Gambar 1.Karena gerakannya yang terus menerus itu, massa air laut mempengaruhi massa udara yang ditemuinya dan merubah cuaca dan iklim di seluruh dunia.
Arus di Kedalaman Samudera (Deep-water Circulation) Faktor utama yang mengendalikan gerakan massa air laut di kedalaman samudera adalah densitas air laut. Perbedaan densitas diantara dua massa air laut yang berdampingan menyebabkan gerakan vertikal air laut dan menciptakan gerakan massa air laut-dalam (deep-water masses) yang bergerak melintasi samudera secara perlahan. Gerakan massa air laut-dalam tersebut kadang mempengaruhi sirkulasi permukaan.
Perbedaan densitas massa air laut terutama disebabkan oleh perbedaan temperature dan salinitas air laut. Oleh karena itu gerakan massa air laut-dalam tersebut disebut juga sebagai sirkulasi termohalin (thermohaline circulation)

Hubungan antara system angin dan arus samudera.

hubungan antara angin dengan arus samudera bisa dilihat dari adanya perbedaan massa air hangat dengan massa air yang lebih dingin .

massa air hangat biasa terdapat daerah samudera pasifik dan samudera hindia atau lebih tepatnya bagian selatan dari garis equatorial.

sedangkan massa air permukaan yang lebih dingin mendominasi perairan samudera pasifik amerika selatan dan perairan equatorial.

pola parameter perairan samudera dan kondisi atmosfir di atasnya ini akan berubah secara dramatis. penghangatan masa air ini terjadi di sepanjang perairan amerika selatan yang biasanya lebih dingin karena perubahan kondisi atmosfer yang begitu drastis . imbasnya terjadilah elnino.

Di Samudera Pasifik, arus ini membawa massa air permukaan yang hangat yang kemudian terakumulasi di Perairan Pasifik Barat sebelah utara wilayah Indonesia.

Indonesia yang merupakan perpanjangan kontinen Asia. Selanjutnya massa air terakumulasi di daerah ekuator . Penumpukan massa air hangat di Perairan Pasifik Barat ini dapat diibaratkan sebagai sebuah kolam besar yang diisi dengan massa air yang hangat.  Massa air yang sangat hangat ini menyebabkan terjadinya hujan lebat berlebih di beberapa wilayah Indonesia.

Pengaruh arus laut terhadap El Nino
Kata El Nino diambil dari bahasa Spanyol yang berarti anak laki-laki. Selang terjadinya El Nino antara dua hingga 7 tahun. Sedangkan karakteristik dari El Nino pun belum benar-benar dipahami hingga para ilmuwan pun masih belum mengetahui karakteristik El Nino.

Anomali muka laut yang dihasilkan pada daerah studi berubah-ubah sesuai musim yang ada. Untuk tahun dengan kejadian El Nino tahun 1997 muka laut yang terbentuk adalah lebih rendah daripada muka laut pada tahun normal dimana penurunannya adalah sebesar 0.0736 m terhadap tahun normal. Penurunan muka laut minimum tersebut terjadi pada bulan September 1997.

Penyebab terjadinya el nino

El Nino merupakan sirkulasi anomali udara dan samudera. Saat dorongan angin pasat terputus atau melemah, air equator yang hangat yang seharusnya secara normal mengalir ke arah barat di equator Pasifik, berbalik mengalir ke timur. Kebanyakan alirannya secara alami adalah equatorial counter current yang diperkuat.

Jadi sirkulasi laut dunia sangat berpengaruh terhadap proses terjadinya El Nino,dimana El Nino terjadi akibat perairan yang berada di equator cenderung lebih hangat yang seharusnya mengalir secara normal ke arah barat berbalik arah mengalir ke arah timur.

Referensi

  1. http://namce8081.wordpress.com/category/gerakan-air-laut/arus-laut/
  2. http://beta.tnial.mil.id/cakrad_cetak.php?id=294
  3. http://digilib.itb.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jbptitbpp-gdl-dominicoki-28205

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!